Hati Ibarat Cermin

deni-triwardana-heart.pngSaya pernah menyaksikan betapa tidak pernah malunya senior saya di tempat kerja melakukan suatu perbuatan yang tercela yang dilakukannya selalu berulang dan berulang dari dahulu semenjak saya mengenalnya sehingga sekarang, teguran, nasehat, peringatan dan klarifikasi sudah dilakukan tapi karena dasarnya hatinya telah berkarat dengan kotoran, perbuatan itu tidak pernah membuatnya malu.

Seperti orang yang tidak waras yang tidak pernah malu berjalan kesana kemari dengan tubuh dan rambutnya penuh kotoran tidak pernah mandi di tambah lagi tanpa pakaian selembarpun, semua orang jijik melihatnya tapi yang bersangkutan tanpa merasa malu tetap saja lalu lalang di jalanan, ah… dasar orang tidak waras…

Berikut ini adalah suatu tulisan yang menginspirasi saya untuk menampilkannya disini, isinya bagus, agar kita harus selalu membersihkan hati kita, yang jika kita rutin selalu membersihkan akan kelihatan pengaruhnya pada diri kita, begitu juga jika kita malas membersihkannya atau bahkan tidak pernah membersihkannya akan kelihatan juga pengaruhnya pada diri kita.

Bandingkan dua buah cermin. Dibuat pada waktu yang sama, ditempatkan di
tempat yang sama, bahkan menerima pencahayaan dan suhu udara yang sama.
Yang membedakan hanyalah dua orang manusia yang memilikinya.

Yang pertama, malas sekali membersihkannya. Setiap ada setitik debu
menempel di cermin, dia biarkan. Bahkan cipratan tinta yang mengenai
cermin pun dia enggan membersihkannya. Dia sama sekali tidak pernah mau
sekedar menghapus, atau menggesek cermin kesayangannya itu dengan lap
bersih atau air bersih. Segala noda dia biarkan menempel di cermin.

Awalnya cipratan tinta itu mungkin hanya setitik, dua titik, lalu tiga
titik, hingga selanjutnya mengendap menjadi gumpalan tinta yang sudah
mengering di permukaan cermin. Sampai-sampai, si pemiliknya sendiri tidak
bisa bercermin pada cerminnya sendiri. Dia tidak bisa melihat apakah
dirinya baik, atau jelek, saat berdiri di depan cermin. Lama-lama,
cipratan-cipratan tinta itu pun menjadi karat. Dan cermin sudah tidak
berfungsi baik lagi. Bahkan, kadang-kadang, karena telah ternodai oleh
gumpakan tinta yang mengarat, cermin memantulkan kebaikan menjadi
kejelekan, atau kejelekan menjadi kebaikan. Karena sudah mengarat, cerminpun susah untuk dibersihkan…

Yang kedua, merawat cerminnya dengan baik. Setiap ada setitik cipratan
tinta, meskipun sedikit, dia langsung membersihkannya. Menggosoknya dengan lap dan air yang bersih. Sehingga cermin setiap harinya selalu jernih, mampu memberinya pengetahuan tentang sebaik/seburuk apa dirinya jika berdiri di depan cermin tersebut. Sehingga cermin bisa membuatnya selalu mengoreksi setiap kesalahan dalam penampilannya.

Demikianlah pula keadaan hati kita… Rajin-rajinlah membersihkannya,
karena jika tidak, niscaya dosa-dosa itu semakin lama akan semakin
menumpuk dan menutupi cahayanya. Yang lebih menakutkan, noda-noda dosa itu bisa membolak-balikkan fakta. Yang benar jadi batil, yang batil jadi
benar. Naudzubillah…

Setiap hari… carilah pengampunan-Nya. Istighfar, bukan hanya di mulut
saja. Namun penyesalan terdalam akan semua kekhilafan yang kita lakukan.
Setiap dosa adalah bahaya. Meski sepatah kata atau sekelebat lirikan mata,
itu awal dari noda yang bisa menjadi karat jika tidak cepat-cepat
dibersihkan.

Ada pepatah, “Menyesali sebelum melakukan, adalah keberuntungan dan
menyesal setelah kejadian, adalah ketidak bergunaan”. Intropeksi diri,
beristighfar setiap waktu adalah lebih baik daripada terlanjur melakukan
kekhilafan. Allah memang Maha penerima taubat, tapi urusan kita adalah
untuk selalu menjaga diri dari dosa.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Meyla Farid
dari Mailling list Daarut Tauhiid.

Iklan

Tentang Deni Triwardana

Staff Pengajar SMK Negeri 3 Jakarta, Mengajar Mata Diklat: Matematika dan Keterampilan Komputer Pengelolaan Informasi (KKPI)
Pos ini dipublikasikan di Tasauf. Tandai permalink.

8 Balasan ke Hati Ibarat Cermin

  1. Rudi berkata:

    Saya setuju, tanpa cermin yang baik kita tak kan dapat melihat diri kita secara baik.

  2. ani berkata:

    Yup, tulisan di atas bisa memotivasi kita agar kita selalu membersihkan hati kita.

  3. Indra berkata:

    Ikut nimbrung nih. Seneng bgt baca tulisannya, bener tuh apa kata rudi, tanpa cermin yang baik kita tak kan dapat melihat diri kita secara baik.

  4. Indra berkata:

    Assalamualaikum wr. wb. Ikut nimbrung nih. Seneng bgt baca tulisannya, semoga kita dijauhkan dari sifat seperti itu.

  5. Deni Triwardana berkata:

    Dear All, saya lanjutkan tulisannya dengan apasaja yang dapat mengotorkan hati…

  6. pengembarajiwa berkata:

    Assalamu’alaikum Wr,wb

    Imam Al-Gazali memang pernah mengatakan bahwa Hati itu ibarat cermin, bila rajin dibersihkan tidak mustahil Tuhanpun kelihatan di dalamnya.

    Salam

    Pengembarajiwa

  7. Ping balik: NIKMATNYA PERJALANAN ASTRAL « Deni Triwardana - Mari Berbagi

  8. Edi berkata:

    bagus mas.. mm… perbandingan yang bagus.. kaca bersih berarti hati orang trsbt memang bersih.. kaca kotor memang buat orang yang malas membersihkan diri alias kotor… intinya menrut saya adalah peduli terhadap diri sendiri. bnarkan mas??

    rgds,

    hamba allah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s