Anggota Dewan + Surat Sakti = Arogansi

Ternyata di Jakarta Pusat saja, tidak hanya sekolah kami yang kebagian surat sakti dalam rangka membebaskan seorang anak dari biaya pendidikan di sekolah, Ada sekolah lainnya yang mendapatkan surat yang sama, Apakah ada main antara tim sukses sang caleg atau partai yang bermain untuk mendapatkan simpati masyarakat atas isyu pendidikan gratis ?

Yang jelas surat sakti dari anggota dewan yang terhormat adalah merupakan arogansi !,

Siswa yang mendapatkan surat sakti adalah mereka yang didekati oleh tim sukses partai yang bersangkutan, yang kemudian melalui anggota dewan yang terhormat (dari partai yang bersangkutan) yang kebetulan  membawahi komisi pendidikan menggunakannya sebagai pengabul permintaan untuk membuatkan surat sakti itu.

Ribut-ribut tentang surat sakti dari anggota dewan itu,  menjadi bahan pembicaraan para guru di sekolah, yang menilai arogan, kan lebih mulia kalau anggota dewan itu sendiri yang memberikan bea siswa untuk anak-anak itu, bukan surat sakti untuk membebaskan biaya.

“Semoga saja beliau tak terpilih lagi di masa DPRD yang baru nanti” , umpat para rekan guru.

Sayapun berharap demikian, semoga DPRD yang baru nanti berisi orang-orang yang bijaksana, tidak arogan, dan tidak membuat surat-surat sakti lagi, cukup sampai disini.

Alhamdulillah bukan dari PKS sih !

Tentang Deni Triwardana

Staff Pengajar SMK Negeri 3 Jakarta, Mengajar Mata Diklat: Matematika dan Keterampilan Komputer Pengelolaan Informasi (KKPI)
Pos ini dipublikasikan di Informasi, Opini, Pengalaman dan tag . Tandai permalink.

6 Balasan ke Anggota Dewan + Surat Sakti = Arogansi

  1. Murni Ramli berkata:

    Lama tidk mengunjungi blog Pak Deni,
    berturut2 tulisannya ttg “politik di sekolah”
    wah, ternyata makin kreatif (aneh) saja cara2 berkampanye, ya😀
    pakai surat sakti segala !
    Sayangnya yg dilawan guru2 SMK 3 yg reformis semua,
    si anak dan keluarganya bagaimana tanggapannya, Pak ?

    • Deni Triwardana berkata:

      Hmm, Mbak Murni, saya malah Rindu sama komentarnya,
      Itu Lho Mbak, Setelah diselidiki, Tim Kampanye salah satu partai lah yang membuat surat kepada seorang anggota dewan dari partainya yang memang berada pada posisi di komisi yang membidangi pendidikan. Anggota dewan ini memang terkenal vokal sih di bidang pendidikan tapi ya itu, para guru malah tidak simpati deh.
      si anak dan keluarganya hanya jadi objek saja, kelihatannya, kalau untuk membebaskan kan bisa dengan usul bea siswa atau bikin SKTM kan bisa.

  2. prayogo berkata:

    He he he, memang itulah adanya. Menjelang pemilihan kemarin, apa saya bisa dilakukan oleh seseorang untuk dapat terpilih lagi, dari hal-hal yang wajar/masuk akal, sampai yang tidak masuk akal.

    Namun sayangnya, setelah pemilihan kadang rakyat sering dilupakan. Rakyat ada jika ada pemilu, setelah itu, hanya dianggap sampah saja.

    Alhamdulillah bukan dari PKS sih ! (wah sepertinya Bapak satu ini pendukung setia PKS ya?). Awalnya saya juga senang dengan PKS, namun setelah dia gabung/koalisi dengan PD, saya berubah pikiran. Penilaian pribadi saya, semua partai sama saja UUK (ujung-ujungnya kekuasaan)….maaf….

    • Deni Triwardana berkata:

      Sebenarnya saya sama dengan Mas Prayogo begitu PKS berkoalisi dengan PD, saya kuciwa, tapi apa boleh buatlah dari pada BLOk M, atau Blok J, saya simpati pada PKS sampai sskarang belum ada dari PKS yang ketangkap KPK artinya masih partai yang bersih dan sholih lah, kalau kekuasaan, wah… saya ingin banget partai yang berkuassa asalah partai yang bersih, peduli dan kredibel, Pemimpinnya sholeh dan bersahaja seperti Mahmud Ahmad dinejad Presiden Iran itu lho !

  3. Willy Ediyanto berkata:

    Wah, surat sakti sudah gak sakti lagi. Lha gimana mau membantu masyarakat dengan uangnya sendiri. MAu beli laptop aja minta – gak sanggup membeli – kan masih bagusan ratusan/ribuan guru yang membeli laptop sendiri dengan cara menabung atau kredit atau pinjam di koperasi. Lebih bermanfaat, daripada yang diusulkan anggota dewan. Paling-paling nantinya jadi pajangan sok gagah, sok keren. Atau malah diberikan ke anaknya atau ke WIL-ya yang masih sekolah/kuliah. Yang terakhir sih bagus karena membantu mencerdaskan, walaupun jalannya licin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s