Bahaya Hubbussyiyadah (Cinta Kekuasaan)

Kekuasaan sering membuat orang lupa diri. Menganggap diri lebih hebat dari orang lain, sehingga merasa sah-sah saja menekan dan mendikte, meneror bahkan mengancam pesaing atau malah memberangus rakyatnya sendiri. Sampai-sampai ketika tidak berkuasa pun akan terkena penyakit post power syndrome. Dan inilah pemandangan yang selalu bisa kita lihat baik melalui kacamata sejarah atau menyaksikan langsung perilaku para penguasa dan agen-agennya.

Dalam diri manusia memang berkembang perasaan hubbussyiyadah (cinta kekuasaan) sebagai perwujudan dari gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri) karena selalu ingin dianggap eksis dalam kehidupannya. Kita lihat ada bekas menteri mau mencalonkan diri menjadi gubernur, ada yang tidak pernah puas sudah menjadi gubernur mencalonkan lagi untuk yang berikutnya, ada bekas presiden masih mau lagi menjadi presiden, begitu terus, sekan tidak pernah puas ingin berkuasa terus, ada juga dari wakil gubernur untuk yang berikutnya mau jadi gubernur dan akhirnya berhasil. Hal ini wajar selama masih dalam frame yang benar. Namun, bila ternyata cinta kekuasaannya itu sangat tinggi sehingga menguasai jiwa dan pikirannya, ini sangat berbahaya.

Maka wajar saja bila Rasulullah selalu mewasiatkan takwa kepada para calon pemimpin yang akan mengemban tugas kekuasaannya. Karena memang kekuasaan itu cenderung akan membawa orang kepada tindakan sewenang-wenang. Nilai takwa inilah yang nantinya bakal mampu meredam segala tindakan yang menyalahgunakan kekuasaan, untuk kemudian seenaknya berperilaku, dari mulai korupsi, kolusi sampai memeras dan memakan harta rakyat.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz, saat melakukan pengontrolan di Baitul Mal pernah menutup hidungnya karena bau minyak kesturi yang menyebar di ruangan itu. Melihat sikap khalifah yang seperti itu, petugas baitul mal penasaran dan bertanya kepada khalifah. “Wahai khalifah, apakah gerangan yang membuat engkau seperti itu?” Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata, “Harta di baitul mal ini adalah milik rakyatku. Dan aku tidak ingin memakan harta rakyatku, walau hanya dengan mencium wangi minyak ini.”

Begitulah salah satu sikap khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam memegang amanah kekuasaannya, yang tentu saja sulit mendapatkan modelnya pada pemimpin sekarang ini, yang cenderung menjadikan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri dan mencekik orang lain, termasuk rakyatnya sendiri.

Kita jadi bertanya, apakah kondisi sekarang ini sudah sesuai yang dianjurkan Rasulullah SAW? Kalau belum, kita sama-sama harus muhasabah lil hukam (mengoreksi penguasa)

Terinspirasi dari Posting Mbak Laela Amra tentang Menguji Kekuasaan

Iklan

Tentang Deni Triwardana

Staff Pengajar SMK Negeri 3 Jakarta, Mengajar Mata Diklat: Matematika dan Keterampilan Komputer Pengelolaan Informasi (KKPI)
Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

4 Balasan ke Bahaya Hubbussyiyadah (Cinta Kekuasaan)

  1. Ayu berkata:

    Tulisan yang patut direnungkan, sekarang sedang musim pilkada, ada bekas menteri mencalonkan diri jadi gubernur, ada gubernur mencalonkan diri lagi menjadi gubernur, semoga sih setealh berkuasa memang untuk untuk membangun masyarakat bukan untuk membangun kekayaan sendiri.

  2. parjono berkata:

    Halooo….pak Deni ! apa kabar?saya mau tanya,gimana untuk persipan 2 UN minggu ini? anak2 pada ngeluh, bilangnya masih ada pelajaran produktif. Mereka pengen untuk sekarang belajarnya di ganti dengan pelajaran UN saja.

  3. etasya berkata:

    yuup intinya, seorang penguasa harus bertakwa agar bisa kendalikan keinginan yang sewenang-wenang..
    Semoga saja amiiin..

    http://www.lintasberita.com/Sains/Bahaya_Hubbussyiyadah_Cinta_Kekuasaan/

  4. Dalam perspektif Islam, kekuasaan merupakan instrumen untuk membuktikan kecintaan.
    Sebagai contoh:
    Seorang muslim memberikan cintanya untuk tiga hal, yaitu: Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW, dan jihad di ‘jalan’ Allah SWT.
    Oleh kerena itu, ketika seorang muslim memiliki kekuasaan, maka ia akan gunakan kekuasaannya ini untuk membuktikan cintanya pada tiga hal tersebut.
    Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s