Tidak dipakai, dilupakan atau tidak tahu !

deni-triwardana-logo-diknas.jpgKetika mengikuti Pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang diselenggarakan Suku DInas Kotamadya Jakarta Pusat di Hotel Puri Jaya seharusnya yang datang pada acara ini adalah kepala sekolah (Saya datang pada acara tersebut mewakili kepala sekolah saya yang berhalangan hadir karena sesuatu dan lain hal), Di acara ini saya mendapatkan suatu informasi tentang buku yang dikarang oleh Ki Hajar Dewantara, dilihat dari ukurannya menurut ukuran saya buku tersebut sangat-sangat tebal, diberitahukan oleh Widyaiswara dari LPMP DKI Jakarta yang membawakan materi tentang MBS, buku yang dikarang Ki Hajar Dewantara tsb. Didapatkan dari Negeri Belanda, dan sudah di terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dan seharusnya para kepala sekolah wajib membaca buku tsb. Sebab MBS yang dimaksudkan sebenarnya sudah ada di dalam buku tsb.

Penasaran dengan isi buku tersebut, berikut ini resumenya :

Judulnya : Karja Ki Hadjar Dewantara

Dari buku setebal itu sebenarnya prinsip dasar yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara yang nama aslinya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat sudah kita tahu Yaitu :

1. Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan kita memberi contoh)

2. Ing Madya Mangun Karso (di tengah membangun prakarsa dan bekerja sama)

3. Tut Wuri Handayani (di belakang memberi daya-semangat dan dorongan).

Ketiga yang disebutkan di atas inilah kunci sukses seorang Kepala Sekolah dalam memimpin sekolahnya, juga guru di dalam memimpin siswanya.

Jika diambil dari prinsip yang pertama (di depan kita memberi contoh), ini saja jika tidak dijalankan oleh Kepala Sekolah atau guru, ini akan berdampak fatal, kenapa ? sebab jika seorang kepala sekolah maupun guru jika di dalam memimpin sekolahnya maupun kelasnya tidak meberikan contoh yang baik maka mustahil sekolah maupun kelas yang dipimpinya akan berhasil dengan baik, misalkan sebagai pimpinan sekolah maupun guru sering datang terlambat kesekolah, sering bolos atau mangkir, lebih parah lagi jika guru pendidikan agama islam ketahuan sering melihat situs porno (wah… bukan contoh yang baik) maka semua perkataan, maupun program yang disusunnya tidak akan dapat dijalankan dengan baik oleh bawahannya ibarat jadi imam sholat sudah batal karena buang angin (maaf). Secanggih apapun program yang dibuat, sebanyak apapun biaya yang dikeluarkan untuk menjalan programnya tidak akan berjalan dengan baik, kenapa ? karena bawahan maupun murid-muridnya sudah tidak percaya lagi dengannya, kenapa ? Karena sudah memberikan contoh yang tidak baik.
Sekitar sepuluh s.d lima belas tahun lalu saya pernah punya kepala sekolah yang rajin datang kesekolah lebih pagi dari pada kami para guru dan murid-muridnya, terus terang sekolah kami pada waktu itu sukses dalam disiplin, murid dan guru malu untuk terlambat, kenapa ? karena seringnya beliau berdiri di depan pintu masuk menyapa guru dan murid yang datang, sampai bel masuk berbunyi kemudian keliling ke kelas-kelas melihat guru siapa yang belum datang ke kelas, Efeknya para guru dan murid jadi malu untuk terlambat. Motto-nya pada waktu itu adalah Tiada Kualitas Tanpa Disiplin.

Mengambil Prinsip yang kedua (di tengah membangun prakarsa dan bekerja sama), Masih dengan kepala sekolah kami tersebut, beliau tidak hanya memberi prakarsa melalui rapat-rapat saja tetapi memang ikut terlibat ditengah-tengah pekerjaan secara bersama-sama, sampai sekarang saya dan teman-teman masih terkesan dengan beliau pada saat-saat persiapan ulangan umum maupun ujian ikut bekerja bersama-sama ditengah-tengah panitia, sebagai anggota kepanitiaan kami bukan merasa diawasi dalam bekerja tapi mendapat bantuan dan perhatian dari pimpinan secara langsung sehingga segala kekurangan, kesalahan pekerjaan dapat terlihat langsung oleh pimpinan.

Untuk Prinsip yang ketiga, jika prinsip yang pertama dan kedua telah dijalankan dengan baik dan benar maka yang prinsip yang ketiga akan berjalan mulus, ketika memberi dorongan dan semangat sudah tidak diragukan lagi, kenapa ? karena bawahan atau murid-murid sudah percaya kepadanya, setelah menjalankan prinsip kesatu dan kedua.

Kembali pada judul : Tidak dipakai, dilupakan atau tidak tahu ! , apakah sebagai guru maupun pimpinan sekolah kita sudah memakainya ?, Apakah sudah dilupakan atau malah tidak tahu dengan prinsip-prinsip ini, padahal Departemen Pendidikan Nasional logonya TUT WURI HANDAYANI.

Iklan

Tentang Deni Triwardana

Staff Pengajar SMK Negeri 3 Jakarta, Mengajar Mata Diklat: Matematika dan Keterampilan Komputer Pengelolaan Informasi (KKPI)
Pos ini dipublikasikan di Berita, Informasi, Pengalaman. Tandai permalink.

9 Balasan ke Tidak dipakai, dilupakan atau tidak tahu !

  1. benbego berkata:

    klo menurut aku sih sesuai judul artikel ini. aku sendiri baru tau? kok bisa2nya ya buku sepenting itu diumpetin!

  2. sugiman berkata:

    sengaja dilupakan kali pak,
    soalnya, barangkali ada yang lebih dipikirkan selain teori2 itu
    Yakni,kehidupan materi….???

    jadi tidak salah kalo, disana-sini para guru pada kdemo..heheheh :-))

    Namun disadari atau tidak pendidikan di negeri ini masih perlu perubahan;
    baik anggaran,Kurikulum,SDM guru yang bisa diandalkan sehingga mampu memberi contoh pada muridnya…:-))

    Kalo bisa diistilahkan memimjam pahamnya sukarnoisme ‘revolusi’ pendidikan…

    Kalo tidak bisa merubah total..ya, minimal merubah dari tatanan birokrasinya dulu kali yaaa…
    terbukti sekarang para ‘penjalan’ birokrasi pendidikan berkolaborasi dengan kalangan bisnis, kan bahaya..bisa2 pendidikan semakin mahal…apa jadinya nanti,…bahaya tuh.
    bisa2 bangsa ini kembali kemasa2 , dimana sistem kapitalis dan sosialis yang dibumbu-bumbui dnegan nilai nasionalis yang diperankan oleh sukarno dan kroni2nya…

  3. Deni Triwardana berkata:

    @benbego : sebenarnya bukunya tidak diumpetin hanya kita sendiri yang tidak peduli dengan karyanya Ki HAJAR DEWANTORO.

    @Sugiman : Terus terang nih, sebenarnya kita sedang dalam keadaan kritis kepimimpinan, Mulai dari presiden, menteri, Anggota DPR, pokoknya di lembaga-lebaga legislatif, yudikatif, eksekutif apalagi di birokrasi, sudah pada korupsi (bukan untuk dicontoh),mengaku leader tapi sikap dan tidak tanduknya bukan seorang pemimpin,
    Sudah menjadi pemimpin tapi tidak tahu apa yang harus dilakukannya sebagai pemimpin.

  4. sugiman berkata:

    Kalau begitu mau-nggak mau kita harus cari pemimpin yang punya semangat baru, yang punya jiwa progresif untuk membangun bangsa ini 5 tahun kedepan,..

    Ya minimal kita, jangan mengelu-elukan pemimpin masa lalu, apa lagi sebagai kebangaan sebuah idealisme pribadi, sudah tau pemimpin2 masa lalu sangat punya andil atas ‘melaratnya’ bangsa ini,

    baik, Soekarno dengan paham ‘ komunis-nasionalis ‘nasakom’nya
    Soeharto dengan paham naionalis-borjuisme’nya

    Tentu kita juga tau kalo2 kedua pemimpin ini hingga saat ini masih mendominasi pola pikir petinggi2 bangsa ini dalam menjalankan roda pemerintahan,

    Bagaimana tidak lihat saja,Mega dengan PDIPnya,Golkar dengan kroni2nya, yang barangkali kedua partai ini sangat berperan sekali atas keterbelakangan bangsa ini…,dengan gaya ‘pembodohan masal’nya, yang begitu cantik, namun anehnya, bangsa ini tidak bisa mengambil hikmah dari semua yang telah lalu.

    Jadi tidak aneh, kalo busaya suap-menyuap, sogok mneyogok bahkan istilah sekarang adalah ‘korupsi’ sudah tidak asing lagi bagi kedua partai ini, bahkan anehnya ‘jamur’penyakit (koropsi) ini sudah menyerbak kekalangan birokrasi, memang sih, kita juga tau kalo birokrasi saat ini kan masih di pegang orang2 ‘lama’ jadi ya makin subur saja tuh ‘jamur’. :-))

    Sebenarnya, kalo membahas tentang birokrasi2 yang pernah dijalankan oleh republik ini sangat panjang,
    Antara Soekarno dengan orde lamanya , soeharto dengan orde barunya
    yang keduanya diwarisi oleh PDIP dan Golkar,…jadi tidak aneh lagi kalo tadi pak Deni bilang ‘krisis kepemimpinan’, pembodohan sejarah dll.

    DAN YANG NGGAK HABIS PIKIR BARU2 INI PARA ‘SESEPUH PETINGGI NEGERI INI’ MENDIRIKAN GERAKAN ‘BANGKIT’ entah tujuannya apa, namun yang jelas kalo lihat dari sepakterjang yang lampau tentunya tidak jauh2 dari tujuan sebelumnya yaitu ‘mempertahankan kedudukan dan hegimonisme kelompok’ yang seharusnya dipahami paham ini sudah tidak laku lagii…karena tentu dengan satu alasan ‘kita bukan sapi perahan lagi’.

    Tentu ini dibarengi bagaimana kita bisa memberi pelajaran ‘politik ‘ pada saudara2 kita untuk hijrah dari ‘paham2’ politik mereka, agar kita mentas dari keterpurukan ekonomi, martabat dan hegemoni barat,…sehingga kita bisa mencontoh IRAN..:-)

    sehingga juga kita mampu saling ‘BERBAGI….’
    dan tidak lagi menggunakan kurikulum barat sebagai standarisasi pendidikan dinegeri ini….hehehhehe
    terima aksih

  5. sugiman berkata:

    oleh nambah kan pak,

    saya ko ingat buku yang saya baca dulu waktu aktif di organisasi kemahsiswaan BEM & KAMMI.

    mengenail cita2 Ki hajar ini, bahkan sempat ditorehkan dalam bukunya…”sekiranya aku jadi seorang belanda”

    “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”.

    mudah2 bisa cicerna’ oleh kita

  6. sugiman berkata:

    KALO BOLEH SEDIKIT BERPENDAPAT TIMBULNYA BUKU KI HAJAR YANG PAK DENI DAN REKAN2 GURU BACA ITU TENTUNYA MENGINGATKAN PARA PENDIDIK AKAN SEMBOYAN TUT WURI HANDAYANI,Kurang lebih begini”
    ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

    NAMUN Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat kita. Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik).

    apakah semboyan ini sudah tertanam dalam jiwa pendidik..saya nggak tau…..jka kita ingin tau lihatlah kwalitas pendidikan kita…tapi bukan berarti semua ini akibat/sebab para pendidik lhooo..PAK,

  7. Waduh … kalau nasib bukunya saja begitu … bagaimana tu muatan bukunya …

  8. bumisegoro berkata:

    denger-denger, ada universitas di China yang secara serius mempelajari ajaran Ki Hajar DEWANTARA. jika info ini benar akan jadi “tragedi”, kita harus belajar dari luar sesuatu yang seharusnya menjadi kompetensi kita.

  9. fatonah.spd berkata:

    salam kenal, sukses buat temen-temen semua

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s