Banjir… Kata Pejabat

Berikut di bawah ini adalah komentar para pejabat mengenai banjir se-JABODETABEK, komentar ini di himpun dari berbagai media dari surat kabar maupun elektronik.

deni-triwardana-sutiyoso.jpgSutiyoso (Gubernur Prov. DKI Jakarta) : Karena banjir kanal timur tersendat dengan pembebasan lahan maka BKT (Banjir Kanal Timur) tidak dapat diselesaikan, dari 23 Km lebih yang harusnya diselesaikan hanya baru 7 Km saja, antisipasi sudah dilakukan hanya memang curah hujan melebihi batas ditambah lagi air laut pasang.

Komentar saya atas komentar Pak Sutiyoso : Memang kesadaran masyarakat untuk berkorban untuk keadaan lebih baik lagi bagi orang banyak masih rendah walaupun begitu pemerintah memang harus dapat memberikan ganti rugi yang layak bagi yang punya lahan yang kan di bebaskan.

 

deni-triwardana-fauzi-bowo.jpgFauzi Bowo (Wakil Gubernur Prov. DKI Jakarta) : Jangan bilang pemerintah gagal dalam menanggulangi banjir lima tahunan, Pemerintah manapun atau siapapun tidak akan mampu mengendalikan alam atau cuaca, pemerintah manapun kecuali barangkali pemerintah Republik BBM (acaranya Effendi Gozali di Metro TV) dapat melakukannya.

Komentar saya atas komentar Pak Fauzi Bowo : Pak Fauzi Bowo menjawab dengan cerdas pertanyaan yang hampir menyudutkannya tentang pemerintah Prov. DKI Jakarta dapat dianggap gagal menanggulangi banjir lima tahunan di Prov. DKI Jakarta. Padahal sudah tahu bakal terjadi teratur lima tahunan. Tapi Pak Fauzi tidak melihat negara lain seperti Belanda teknologi anti banjirnya sudah canggih karena memang dengan sering terjadinya banjir disana maka perkembangan teknologi anti banjir dipikirkan kemudian dikembangkan. Memang pemerintahan manapun tidak akan mampu mengendalikan alam ataupun cuaca tapi mengembangkan teknologinya untuk mengendalikan efeknya mungkin bisa.

deni-triwardana-djoko-kirmanto.jpgDjoko Kirmanto (Menteri Pekerjaan Umum) : Banjir Se-Jabodetabek yang lima tahunan ini dapat terjadi karena perkembangannya begitu buruk dari masyarakat dan pemerintah itu sendiri, lima tahunan kemudian setelah tahun 2002 membangun perumahan di kawasan resapan, bukan membuka situ tapi menutup situ, menebang pohon bukan menanam pohon. Membuang sampah sembarangan ke dalam kali, membangun rumah-rumah di daerah hijau sampai di pinggir aliran sungai.

Komentar saya atas komentar Pak Djoko Kirmanto : Alasan Pak Joko masuk logika juga, analisis yang tepat.

Bagaimana komentar Anda ?

Iklan

Tentang Deni Triwardana

Staff Pengajar SMK Negeri 3 Jakarta, Mengajar Mata Diklat: Matematika dan Keterampilan Komputer Pengelolaan Informasi (KKPI)
Pos ini dipublikasikan di Berita, Opini. Tandai permalink.

6 Balasan ke Banjir… Kata Pejabat

  1. senyumsehat berkata:

    Komentar saya,
    Back to basic saja, jangan menyalahkan alam dan meng-excused diri sendiri, dikasih akal khan untuk berfikir antara lain bagaimana mengatasi jalannya air biar nggak mbludak…belajar dr pengalaman.

    Tapi orang indo khan pelupa…bulan depan juga udah lupa, jadi gimana mau belajar…?

  2. Deni Triwardana berkata:

    Yup saya sependapat dengan Bu Dokter Ujian diberikan kepada manusia (banjir) agar ia dapat mengatasinya karena diantara mahluk ciptaanNYA manusialah yang ber-akal budi.

  3. Dedi Dwitagama berkata:

    Barangkali ini gambaran dari program Pemda yang sering action setelah ada kejadian, aspek antisipasi dan pencegahannya tak diperhatikan … disisi lain mungkin analog dengan pola bekerja jika ada instruksi (saat ini banjir memberikan instruksi yang tak dapat ditawar) … kreatifitas tak dibiasakan muncul sebelum ada keadaan emergency.
    Pak Fauzi mungkin harus mempersiapkan staf yang kreatif tanpa harus menunggu instruksi .. he he he emang dah resmi mencalonkan?

  4. helgeduelbek berkata:

    Ah untuk berdalih saja kalau pejabat yang komentar, mbok yah ikut turun bersihin got sama-sama warga. Kang deni kebanjiran gak ๐Ÿ™‚

    Alhamdulillah tempat dimana saya tinggal aman-aman saja Pak.

  5. murniramli berkata:

    Sesuatu yang sering berulang semestinya
    menjadi pembelajaran berharga. Seperti
    ungkapan : Jangan masuk ke lubang biawak
    dua kali !.
    Jangan mau tenggelem lagi u yang kedua
    kalinya.
    Sebagai contoh Jepang, negara ini termasuk
    yang tinggi frekuensi gempanya. Belajar
    dari itu para ahli bangunannya merancang
    sistem bangunan tahan gempa, dan pemerintah
    kota mewajibkan semua bangunan mengikuti
    prosedur itu.Baru2 ini ada kontraktor apartment
    yang diperkarakan ke meja hijau krn bangunan
    yg dikembangkannya tdk tahan gempa.

    Inilah bangsa kita Bu, Kawasan Rawa dibangun perumahan & Mall tidak adala resapan air,
    Pak Gubernur lebih aktif dengan proyek buswaynya alhasil lima tahun kemudian banjir tidak dapat diantisipasi lagi

  6. Kang Kombor berkata:

    Pempus dan Pemda2nya nggak mampu + rakyatnya apatis = negoro bubar.

    Sepertinya terlena dengan proyeklain (busway) sehingga tidak menjadi prioritas utama lagi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s